Home Advertorial Raker Komisi I dengan Dinas Kesehatan dan RSUD: DPRD Pasangkayu Beberkan Keluhan Publik

Raker Komisi I dengan Dinas Kesehatan dan RSUD: DPRD Pasangkayu Beberkan Keluhan Publik

90
0
SHARE
Raker Komisi I dengan Dinas Kesehatan dan RSUD: DPRD Pasangkayu Beberkan Keluhan Publik

PASANGKAYU - Keluhan masyarakat yang masuk ke Komisi I DPRD Kabupaten Pasangkayu mengalir langsung ke dalam forum resmi pada Rabu, 14 Januari 2026.

Dalam rapat pembahasan rencana program kerja Dinas Kesehatan dan RSUD untuk tahun anggaran 2026, Wakil Ketua Komisi I, Arham Bustaman, yang memimpin rapat tersebut, didampingi anggota lainnya, Andrias dan Muh. Ilham, membeberkan sederet persoalan mendasar yang dirasakan warga, jauh melampaui sekadar urusan anggaran.

Keluhan-keluhan ini menyentuh aspek humanitas dan kenyamanan yang esensial dalam sebuah layanan kesehatan.

"Semua ini adanya keluhan masyarakat yang mengeluhkan kepada kami," jelas politisi Nasdem, yang menegaskan bahwa rapat ini berangkat dari aspirasi langsung konstituen.

Sorotan pertama adalah tentang protokol sederhana yang justru menimbulkan ketidaknyamanan. Arham menyampaikan keluhan mengenai tidak tersedianya penyimpanan alas kaki bagi keluarga pasien yang harus melepaskannya sebelum masuk kamar.

“Tidak adanya alas kaki yang digunakan di dalam kamar bagi pasien, sementara keluarga harus membuka alas kaki jika ingin masuk ruang perawatan apalagi masuk dalam kamar pasien, sementara di luar tidak ada penyimpanan alas kaki sehingga berserakan di mana-mana,” tuturnya.

Selain itu, penataan parkir di RSUD Ako yang tidak rapi juga dikritik karena memberikan kesan buruk dan ketidaknyamanan bagi pengunjung.

Namun, keluhan yang lebih substantif menyangkut praktik medis dan etika petugas. Masyarakat, menurut Arham, dilanda kekhawatiran terkait prosedur persalinan, yang ditangani dokter Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), yakni dokter spesialis yang menangani kesehatan wanita secara menyeluruh.

Ada anggapan bahwa datang ke rumah sakit untuk melahirkan hampir pasti berujung pada operasi caesar.

“Masyarakat beranggapan jika ke rumah sakit melahirkan, pasti akan dilakukan tindakan operasi bedah sesar (sectio caesarea). Ini menjadi ketakutan pasien jika ingin melahirkan di rumah sakit. Padahal pasien ingin melahirkan secara normal, hal ini diharapkan jika masih bisa normal, maka sebaiknya secara normal jangan langsung operasi sesar,” keluhnya.

Tak kalah penting, adalah masalah perilaku petugas medis. Arham menekankan perlunya keramahan dan tutur kata yang baik dari tenaga kesehatan dalam berinteraksi dengan pasien dan keluarganya.

Rapat yang dihadiri oleh Kadis Kesehatan dr. Rukman dan Muzakkir, SKM selaku Kasubag Program, serta perwakilan RSUD, Akhmad Yani, ST (Kabid Perencanaan) dan Ika Pramesti, SKM (Kasie program) ini pun menjadi ruang untuk mendengar dan mencari solusi, mengingat bahwa kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan dibangun tidak hanya dari kemampuan teknis medis, tetapi juga dari perhatian pada detail kenyamanan dan komunikasi yang empatik. (ns)